Al-Kindi, Pengenal Filsafat Ke Dunia Islam

 


    Pasca kepemimpinan Harun Ar-Rasyid, yang meletakkan dasar bagi Bayt Al-Hikmah, ilmu pengetahuan di Dunia Islam, bahkan dunia, mengalami perkembangan pesat. Di bawah penerusnya, khususnya Khalifah Al-Ma'mun, Bayt Al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) menjadi pusat penerjemahan karya-karya ilmiah dari berbagai peradaban, mulai dari Yunani hingga India. Salah satu tokoh penting yang lahir dan berkarya pada masa keemasan ini adalah Al-Kindi, yang kemudian dikenal sebagai filsuf pertama dalam sejarah kefilsafatan Islam.

    Al-Kindi, yang memiliki nama lengkap Abu Yusuf Ya'qub ibn Ishaq Al-Kindi, lahir di Kufah sekitar awal abad ke-9 Masehi dari keluarga Arab terpandang suku Kindah. Ayahnya adalah seorang gubernur di Basra. Berkat latar belakang keluarganya, Al-Kindi telah mendapatkan pendidikan agama dan ilmu-ilmu dasar sejak kecil. Kemudian hari, Al-Kindi merantau ke Baghdad untuk memperdalam ilmunya. Ia mendapatkan dukungan dari khalifah pada masa itu, Al-Ma'mun dan Al-Mu'tashim, yang menempatkannya di Bayt Al-Hikmah untuk menerjemahkan dan mengkaji karya-karya Yunani.

    Walaupun dikenal sebagai filsuf, Al-Kindi sebenarnya adalah seorang polymath, seseorang yang menguasai berbagai bidang ilmu. Di bidang astronomi, ia bekerja dalam kerangka konsep geosentris Ptolemaik dan memberikan kontribusi pada pemahaman pergerakan benda-benda langit. Yang menarik, Al-Kindi juga memasukkan unsur teologis dalam kajian astronominya, di mana ia memandang pergerakan matahari dan planet-planet sebagai bentuk ketaatan dan ibadah makhluk kepada Tuhan.

    Di bidang optik, ia membandingkan teori penglihatan Aristoteles dengan teori Euklides. Al-Kindi menemukan bahwa teori Euklides, yang menyatakan bahwa sinar visual keluar dari mata untuk menangkap bentuk objek sebelum informasinya diproses oleh akal, lebih meyakinkan daripada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa agar mata dapat melihat, objek dan mata harus berada dalam medium yang sudah terisi cahaya.

    Di bidang medis, Al-Kindi, yang dikenal sangat menyukai matematika, mengembangkan konsep perhitungan dalam dunia medis, salah satunya adalah sistem untuk menentukan dosis obat berdasarkan fase-fase bulan dan perhitungan matematis lainnya. Selain itu, di bidang kimia, Al-Kindi dengan berani menolak konsep alkimia yang populer pada masanya, yang percaya bahwa logam-logam dasar dapat diubah melalui proses kimia untuk menciptakan logam mulia seperti emas.

    Salah satu bidang lain yang dikuasai oleh Al-Kindi adalah kriptografi, yang membuatnya dikenal sebagai salah satu perintis ilmu pemecahan kode. Menurutnya, seni memecahkan kode rahasia sebenarnya dapat dilakukan secara sistematis. Metode yang ia kembangkan, yang kini dikenal sebagai analisis frekuensi, memerlukan teks dalam bahasa yang sama dengan pesan sandi yang ingin dipecahkan. Kemudian, dihitung frekuensi kemunculan setiap huruf dalam bahasa tersebut. Huruf yang paling dominan dalam teks referensi kemudian disubstitusikan ke simbol atau huruf yang paling sering muncul dalam pesan sandi.

    Dari segi filsafat, Al-Kindi melalui karyanya yang monumental, Al-Falsafah al-Ula (Filsafat Pertama), menjelaskan bahwa tujuan filsafat dan wahyu adalah sama, yaitu pencarian kebenaran. Dalam bukunya itu, ia menekankan pentingnya menghargai dan mengambil manfaat dari para pemikir Yunani kuno yang telah mewariskan pengetahuan mereka. Pada bagian selanjutnya, ia mengemukakan argumen filosofis bahwa alam semesta itu tidak abadi, melainkan diciptakan dari ketiadaan (creatio ex nihilo). Pandangan ini bertentangan dengan tradisi filsafat Yunani Aristoteles dan Neoplatonisme yang menganggap alam semesta kekal. Al-Kindi dengan cerdik menggunakan logika Aristoteles sendiri untuk membantah argumen kekekalan alam. Aristoteles mengajarkan bahwa infinitas aktual (ketakterhinggaan yang telah terwujud secara keseluruhan) itu mustahil. Al-Kindi menggunakan premis ini untuk menyatakan bahwa karena alam semesta adalah suatu wujud aktual, ia tidak mungkin tak terhingga dalam durasi masa lalunya; dengan kata lain, alam semesta tidak mungkin abadi dan pasti memiliki permulaan.

    Setelah itu, ia menjelaskan konsep keesaan Tuhan (Tauhid). Menurutnya, semua makhluk yang kita jumpai di alam ini tersusun dari banyak bagian, satu jenis hewan terdiri dari berbagai individu, satu manusia terdiri dari berbagai organ, dan seterusnya. Entitas-entitas ini memiliki kesatuan yang bersifat aksidental atau komposit. Nah, inilah yang membedakan Tuhan dengan ciptaan-Nya. Tuhan, menurut Al-Kindi, adalah Yang Esa Sejati (Al-Wahid Al-Haqq), benar-benar tunggal, absolut, tidak tersusun dari bagian-bagian, dan tidak dapat dijelaskan dengan atribut-atribut manusiawi yang menyiratkan kemajemukan atau keterbatasan. Menurutnya juga, Tuhanlah yang menjadi sebab adanya kesatuan dalam keragaman makhluk-Nya.

    Walaupun dengan kecerdasannya yang luar biasa, pemikiran Al-Kindi tidak lepas dari berbagai kritik. Pandangannya yang cenderung menyamakan metafisika dengan teologi (filsafat ketuhanan), dianggap oleh sebagian filsuf setelahnya sebagai penyimpangan dari konsepsi Aristoteles mengenai metafisika sebagai ilmu tentang wujud sebagai wujud. Hal ini kemudian dikritik oleh tokoh-tokoh filsuf seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina. Argumennya mengenai ketidakabadian alam semesta juga dinilai memiliki kelemahan, karena Aristoteles membedakan antara dua jenis infinitas, infinitas aktual (ketakterhinggaan wujud yang serentak) dan infinitas potensial (kemungkinan penambahan tanpa batas, seperti dalam deret angka atau pembagian garis). Para pengkritik menyatakan bahwa Al-Kindi mungkin keliru memahami konsep ini, karena kekekalan alam semesta dalam pandangan Aristotelian lebih merujuk pada infinitas potensial dalam durasi waktu, bukan infinitas aktual dari segi jumlah bagian atau ukuran.

    Selain itu, pandangan-pandangan ketuhanannya yang dipengaruhi oleh Neoplatonisme dan Aristoteles kemudian mendapat kritik dari Al-Ghazali. Menurut Al-Ghazali, upaya Al-Kindi (dan filsuf lainnya) untuk menyelaraskan wahyu dengan akal dan logika filsafat Yunani berpotensi menyelewengkan makna wahyu itu sendiri demi menyesuaikannya dengan kerangka rasionalitas mereka, yang menurut Al-Ghazali adalah sebuah kekeliruan metodologis.

    Namun, tidak dapat dipungkiri, jasa Al-Kindi terhadap perkembangan filsafat Islam, bahkan ilmu pengetahuan secara umum, sangatlah besar. Buku-bukunya, yang diperkirakan berjumlah ratusan judul (meskipun banyak yang telah hilang), dirujuk dan dikembangkan oleh para intelektual besar lainnya, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan, karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada Abad Pertengahan dan turut memengaruhi pemikiran di Eropa. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Al-Kindi dijuluki sebagai "Bapak Filsafat Islam".


Referensi : 

Adamson, P. (2020). Al-Kindi. Dalam E. N. Zalta (Ed.), The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Fall 2020 ed.). Diakses pada 2 Juni 2025, dari https://plato.stanford.edu/entries/al-kindi/

Wikipedia. Diakses pada 2 Juni 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Kindi

Habibah, S. (2020). Filsafat Ketuhanan Al-Kindi. Dar El-Ilmi: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora, 7(1), 19–34. http://e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/dar/article/download/2025/1362

Madani, A. B. (2015). Pemikiran Filsafat Al-Kindi. Lisan al-Hal: Jurnal Pengembangan Pemikiran dan Kebudayaan, 17(2). https://doi.org/10.21093/lj.v17i2.433