Dekonstruksi Paradoks Batu, Ketika Bahasa dan Logika Gagal Memahami Kemahakuasaan



    Sebagian besar agama percaya bahwa Tuhan itu maha kuasa. Kepercayaan fundamental ini, sepanjang jalannya sejarah, secara tak terhindarkan memicu upaya-upaya intelektual untuk menguji batasannya, terkadang untuk membantah kemahakuasaan Tuhan, atau bahkan keberadaan Tuhan itu sendiri.

    Salah satu tantangan filosofis yang paling terkenal adalah Paradoks Batu (Omnipotence Paradox): "Bisakah Tuhan yang maha kuasa menciptakan batu yang begitu berat, sehingga Ia sendiri tidak mampu mengangkatnya?" Pertanyaan ini dirancang sebagai jebakan logika yang mengarah pada dua jawaban dengan satu kesimpulan yang sama. Jika jawabannya 'ya', maka Tuhan tidak lagi maha kuasa karena ada sesuatu yang tidak bisa Ia lakukan (mengangkat batu itu). Jika jawabannya 'tidak', maka Tuhan juga tidak lagi maha kuasa karena Ia tidak mampu menciptakan sesuatu.

    Perdebatan ini telah berlangsung selama berabad-abad di kalangan para filsuf dan teolog. Namun, seiring berkembangnya pemikiran, menjadi jelas bahwa masalahnya tidak terletak pada jawaban atas pertanyaan tersebut, melainkan pada pertanyaan itu sendiri.

    Bantahan yang paling umum dan kuat berargumen bahwa pertanyaan ini menyajikan sebuah absurditas logis. Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai analisis filosofis, meminta Tuhan menciptakan "batu yang tidak bisa Ia angkat" secara konseptual mirip dengan meminta-Nya untuk menggambar "lingkaran persegi" atau menciptakan "panas yang dingin". Kemahakuasaan, menurut pandangan yang dipegang oleh pemikir seperti Thomas Aquinas dan Agustinus dari Hippo, bukanlah kemampuan untuk melakukan hal-hal yang secara intrinsik nonsensikal. Sebaliknya, kemahakuasaan adalah kemampuan untuk melakukan segala sesuatu yang secara logis mungkin. Agustinus bahkan berpendapat bahwa Tuhan tidak dapat melakukan hal-hal tertentu justru karena Ia maha kuasa dan sempurna, Ia tidak bisa berdosa, tidak bisa mati, dan tidak bisa membuat kebenaran menjadi kebohongan. C.S. Lewis, dalam tulisannya menyimpulkan bahwa "kombinasi kata-kata yang tidak berarti tidak tiba-tiba memiliki arti hanya karena kita menempatkan kata 'Tuhan bisa' di depannya".

    Kontradiksi logis ini, pada dasarnya, berakar pada keterbatasan bahasa manusia dalam mendefinisikan konsep absolut. Ini adalah bukti betapa lemahnya bahasa yang kita gunakan untuk menangkap makna "kemahakuasaan". Kata "maha kuasa" dan frasa "tidak mampu mengangkat" adalah konstruksi linguistik kita. Ketika kita memaksanya ke dalam satu kalimat yang saling meniadakan, kecacatan yang muncul bukanlah pada konsep Tuhan, melainkan pada formulasi semantik kita. Perdebatan ini menjadi tidak berguna bukan karena tidak ada jawaban, tetapi karena inti permasalahannya adalah kegagalan bahasa kita untuk merumuskan pertanyaan yang koheren tentang konsep yang tak terbatas.

    Namun, penting untuk dicatat bahwa definisi kemahakuasaan sebagai 'kemampuan melakukan segala yang logis' itu sendiri merupakan salah satu posisi filosofis, bukan satu-satunya. Filsuf seperti René Descartes, misalnya, berpendapat bahwa Tuhan berada di atas logika dan karena itu dapat melakukan hal yang secara logika tidak mungkin. Bagi Descartes, hukum logika adalah ciptaan Tuhan, dan Ia tidak terikat olehnya. Meskipun pandangan ini kurang umum, ia menunjukkan bahwa perdebatan ini juga menyentuh pertanyaan yang lebih dalam, Apakah kemahakuasaan tunduk pada logika, atau apakah logika tunduk pada kemahakuasaan?

    Dengan demikian, Paradoks Batu mungkin tidak seharusnya dilihat sebagai sebuah 'kegagalan logika', melainkan justru sebagai sebuah 'keberhasilan konseptual'. Ia berhasil secara efektif memaksa para pemikir untuk mengklarifikasi dan memperdebatkan apa sebenarnya yang dimaksud dengan "kemahakuasaan". Paradoks ini berfungsi sebagai alat uji filosofis yang memisahkan pemahaman yang naif tentang kekuasaan absolut dari definisi yang lebih ketat dan logis secara filosofis.

    Pada akhirnya, Paradoks Batu lebih banyak mengungkap tentang batas-batas logika dan bahasa manusia daripada tentang batas-batas Tuhan. Pertanyaan ini tidak memerlukan jawaban 'ya' atau 'tidak', melainkan dekonstruksi. Ia adalah sebuah gejala dari keterbatasan kita dalam mencoba membingkai Yang Tak Terbatas dengan alat-alat kita yang terbatas. Pertanyaan yang cacat secara linguistik dan logis tidak dapat diharapkan untuk menghasilkan jawaban yang jernih, melainkan hanya menyoroti kecacatan itu sendiri.


Referensi

- Philosophy Terms. (n.d.). _Omnipotence Paradox_. Diakses dari [https://philosophyterms.com/omnipotence-paradox/]

- Terminal Mojok. (2021, 23 Juli). _Omnipotence Paradox: Bisakah Tuhan Menciptakan Batu yang Tak Bisa Tuhan Angkat?_. Diakses dari [https://mojok.co/terminal/omnipotence-paradox-bisakah-tuhan-menciptakan-batu-yang-tak-bisa-tuhan-angkat/]

- Wikipedia. (2024, Juni 5). _Omnipotence paradox_. Diakses dari [https://en.wikipedia.org/wiki/Omnipotence_paradox]