Protagoras, Tidak Ada Kebenaran Yang Absolut



    Protagoras merupakan salah satu filsuf aliran sofis yang hidup sebelum era Sokrates. Sebagai salah satu filsuf sofis, Protagoras mengklaim bahwa dirinya mengajar tentang kebijakan selama empat puluh tahun.

    Protagoras lahir di Aldbera, perkiraan tahun 490 SM dan meninggal pada tahun 420 SM. Masa lalunya kurang dapat diketahui, tapi diperkirakan ia sempat bekerja sebagai pengangkut barang sebelum nantinya dibawa oleh Democritus, seorang filsuf atomis untuk dijadikan murid setelah melihat kesempurnaan secara geometris cara Protagoras mengangkut kayu. Nantinya pertemuannya dengan Democritus lah yang menumbuhkan ketertarikan Protagoras terhadap filsafat. Hidupnya pun mulai berubah, dimana ia mulai dikenal sebagai filsuf handal bahkan berteman dekat dengan Pericles, politikus terkenal di Athena.

    Walaupun menjadi murid Democritus yang terkenal akan perhitungan matematisnya, hal itu tidak menurun kepada Protagoras bahkan dirinya membantah akan metode matematis. Protagoras skeptis terhadap konsep matematis, yang menurutnya tidak ada di dunia nyata. Perhitungan garis lurus sempurna di matematika menurut Protagoras tidak ada di dunia nyata. Nantinya pemikiran Protagoras ini menjadi fondasi filsafat relativismenya.

    Protagoras percaya bahwa kebenaran itu relatif dan tidak absolut. Sebagai contoh, ketika A merasakan udara sedang panas, mungkin B merasakan udara sedang dingin. Selain itu, salah satu konsep yang ia utarakan dan salah satu yang paling kontroversial adalah klaimnya terhadap keberadaan tuhan yang diragukan. Argumen kontroversial ini yang nantinya membuat Protagoras diasingkan.

    Tentu konsep relativisme ini dikritisi oleh banyak filsuf besar di kemudian hari seperti Plato. Masalah utama dalam argumen ini adalah, jika kebenaran adalah relatif, maka otomatis argumen Protagoras terkait kebenaran bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Selain itu, tergabungnya Protagoras terhadap filsuf-filsuf sofis yang cenderung mengajar demi uang, dan tidak pernah fokus pada pencarian kebenaran sejati, melainkan hanya mencoba menguatkan argumen yang sebenarnya lemah, menimbulkan kritik besar dari filsuf-filsuf setelahnya.

    Terlepas dari berbagai kritik, kontribusi Protagoras terhadap perkembangan pemikiran filsafat tidak dapat dipungkiri. Ungkapannya yang terkenal, "Manusia adalah ukuran dari segala sesuatu" (homo mensura), menjadi fondasi penting bagi pengembangan filsafat humanisme di kemudian hari. Relativisme yang diperkenalkan Protagoras juga membuka jalan bagi perkembangan pemikiran kritis tentang sifat kebenaran dan realitas yang terus diperdebatkan hingga era modern. Meski para filsuf seperti Sokrates dan Plato mengkritik keras pendekatan sofis, dialog-dialog kritis ini justru memperkaya khazanah filsafat Yunani kuno dan membentuk landasan bagi tradisi filosofis Barat yang kita kenal saat ini.


Referensi : 

https://en.wikipedia.org/wiki/Protagoras

https://www.britannica.com/topic/Sophist-philosophy